HUBUNGAN NILAI ANTARA RITUS PATI KA EMBU MAMO DALAM ADAT TIWU MBOJO PADA MASYARAKAT KELITEMBU DENGAN RITUS PERSEMBAHAN DALAM LITURGI EKARISTI GEREJA KATOLIK

NINDI, SISILIA NOVYANTI (2025) HUBUNGAN NILAI ANTARA RITUS PATI KA EMBU MAMO DALAM ADAT TIWU MBOJO PADA MASYARAKAT KELITEMBU DENGAN RITUS PERSEMBAHAN DALAM LITURGI EKARISTI GEREJA KATOLIK. Other thesis, STIPAR ENDE.

[thumbnail of ABSTRAK] Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf

Download (2MB)
[thumbnail of BAB I] Text (BAB I)
BAB I.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
[thumbnail of BAB II] Text (BAB II)
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (4MB) | Request a copy
[thumbnail of BAB III] Text (BAB III)
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (952kB) | Request a copy
[thumbnail of BAB IV] Text (BAB IV)
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (8MB) | Request a copy
[thumbnail of BAB V] Text (BAB V)
BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
[thumbnail of DAFTAR PUSTAKA] Text (DAFTAR PUSTAKA)
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (5MB)

Abstract

ABSTRAK
Nindi, Sisilia Novyanti. 2024. “Hubungan NilaiAntara Ritus Pati Ka Embu Mamo
Dalam Adat Tiwu Mbojo Pada Masyarakat Kelitembu Dengan Ritus Persembahan
Dalam Liturgi Ekaristi Gereja Katolik”. Skripsi. Program Studi Pendidikan
Keagamaan Katolik. Sekolah Tinggi Pastoral Adma Reksa Ende.
Pembimbing: Fransiskus Yance Sengga, S. Fil., Lic. Th.
Kata Kunci:Ritus, Persembahan, Pati Ka Embu Mamo, Liturgi Ekaristi.
Manusia merupakan makhluk sosial dan makhluk berbudaya.Kenyataan ini
memberi ciri pada keberadaan manusia yang tidak bisa lepas dari interaksi
dengan sesama manusia. Interaksi antar manusia ini melahirkan tatanan sosial dan
budaya.Nilai religius yang terkandung dalam berbagai budaya, dapat dikaji dan
ditemukan dalam setiap ritus adat.Sebagai sebuah masyarakat yang berbudaya,
masyarakat Desa Kelitembu, Kecamatan Wewaria juga memiliki ritus-ritus
adat.Salah satu ritus yang dimaksud adalah ritus pati ka embu mamo atau
memberi makan leluhur. Ritus pati ka embu mamo atau memberi makan leluhur
merupakan bagian dari ritual adat tiwu mbojo yang diselenggarakan untuk
menghormati dan mengenang kembali para leluhur.Adapun ritus ini biasa digelar
pada bulan Desember setiap tahun. Ritus pati ka embu mamo atau memberi
makan leluhur sendiri terjadi di pantai adat yang biasa disebut dengan pantai tiwu
mbojo.
Peneliti menemukan beberapa permasalahan terkait dengan pelaksanaan ritus pati
ka embu mamo atau memberi makan leluhur dalam ritual tiwu mbojo dengan ritus
persembahan dalam litugi ekaristi Gereja Katolik yaitu: (1) Masyarakat
Kelitembu yang lebih berantusias dalam mengikuti ritus pati ka embu mamo
dibandingkan mengikuti perayaan Ekaristi. (2) Kehidupan bermasyarakat banyak
terjadi bentrok atau pertentangan antara tetangga maupun dalam anggota keluarga
itu sendiri. (3) Masyarakat Kelitembu sering membersihkah lahan tani dengan
menebang pohon dan membakarnya sehingga lahan tersebut menjadi tandus jika
masa panen telah selesai.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana
hubungan nilai antar ritus pati ka embu mamodalam ritual adat tiwu mbojo
dengan ritus persembahan dalam liturgi Ekaristi Gereja Katolik di Kampung
Kelitembu, Desa Kelitembu, Kecamatan Wewaria.Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Peneltian tersebut dilakukan di desa
Kelitembu dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi dan
wawancara.Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data
kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam proses ritus pati ka
embu mamo dan ritus persembahan dalam Gareja Katolik memiliki nilai-nilai
religius yang sama di antaranya adalah nilai menjunjung tinggi Wujud Tertinggi
(Du’a gheta lulu wula, Ngga’e ghale wena tana)dalam ritus pati ka embu mama
dan Tuhan Allah Semesta alam dalam ritus persembahan, nilai persatuan
(persatuan dengan yang Ilahi, sesama, dan alam semesta), dan hubungan antara
manusia dengan alam (upaya memelihara, merawat, dan melestarikan alam
vi
vii
semesta). Ini semua dibuktikan dengan adanya doa-doa yang terdapat dalam
tuturan ritus pati ka embu mamo sendiri dengan doa-doa yang baku dan
didaraskan imam dalam ritus persembahan dalam Perayaan Ekaristi Gereja
Katolik.Bertolak dari beberapa kesimpulan yang telah diuraikan di atas, maka
penulis memberikan beberapa saran berikut ini:Pertama, kepada para pemangku
adat Kampung Kelitembu agar tetap mewarisi ritual adat tiwu mbojo dengan setia
dan tekun menjalankan ritual tersebut pada setiap akhir tahun.Kedua, kepada
masyarakat Desa Kelitembu yang beragama Katolik, kiranya partisipasi aktif
yang ditunjukkan dalam prosesi ritual adat tersebut menjadi jembatan yang
menghubungkan mereka untuk semakin aktif juga dalam mengikuti perayaan
Ekaristi Hari Minggu dan Hari Raya. Karena Ekaristi merupakan puncak dan
sumber hidup orang kristiani. Puncak artinya, segala kegiatan umat kristiani
bermuara dan berpuncak pada Ekaristi. Sumber artinya melalui Ekaristi, umat
kristiani memperoleh daya atau kekuatan ilahi. Selain itu, masyarakat harus sadar
bahwa perilaku menebang pohon dan berselisih atau bentrok dengan tetangga
atau anggota keluarga sendiri adalah perilaku yang salah dan bertentangan
warisan tradisi leluhur yang dijalankan dalam ritual tersebut. Untuk itu,
masyarakat diminta untuk lebih menghayati nilai-nilai persatuan dan kelestarian
alam dengan benar sebagaimana yang terkandung dalam ritual adat pati ka embu
mamo yang kesempurnaannya tampak dalam perayaan Ekaristi.

Item Type: Thesis (Other)
Uncontrolled Keywords: :Ritus, Persembahan, Pati Ka Embu Mamo, Liturgi Ekaristi.
Subjects: L Education > Pendidikan Keagamaan Katolik
Depositing User: Josias Gregorius Naro Reda
Date Deposited: 19 Jun 2026 05:35
Last Modified: 19 Jun 2026 05:35
URI: http://repository.stipar-ende.ac.id/id/eprint/336

Actions (login required)

View Item
View Item