Paga, Agustina Trimarcelianawati (2025) RITUAL PO’O DAN RELEVANSINYA TERHADAP PERSEKUTUAN UMAT DI STASI AEBARA PAROKI WONDA DALAM PERSPEKTIF EKLESIOLOGI KONSILI VATIKAN II. Other thesis, STIPAR ENDE.
ABSTRAK.pdf
Download (2MB)
BAB I.pdf
Restricted to Registered users only
Download (929kB) | Request a copy
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only
Download (4MB) | Request a copy
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only
Download (975kB) | Request a copy
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only
Download (4MB) | Request a copy
BAB V.pdf
Restricted to Registered users only
Download (444kB) | Request a copy
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (3MB)
Abstract
ABSTRAK
Paga, Agustina. 2024. “Ritual Po’o Dan Relevansinya Terhadap Persekutuan
Umat Di Stasi Aebara Paroki Wonda Dalam Perspektif Eklesiologi Konsili
Vatikan II”. Skripsi. Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik. Sekolah
Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende. Pembimbing: Dr. Anselmus Dore Woho Atasoge, S.Fil., M. Th
Kata Kunci: Persekutuan Umat, Ritual Po’o
Po'o merupakan ritual adat masyarakat Suku Lio yang dilaksanakan setiap awal
musim tanam. Ritual adat Po’o juga merupakan simbol adanya hubungan antara
masyarakat adat, Yang Maha Kuasa dan para leluhur. Inti dari ritual ini adalah
menyampaikan permohonan kepada Yang Mahakuasa dan leluhur untuk
kesuburan lahan perkebunan dan pertanian. Ritual adat po’o ini juga sebagai
ungkapan syukur kepada Du''a Lulu Wula Ngga’e Wena Tanah (Allah Penguasa
Jagat) atas hasil panen yang diperoleh pada musim tanam sebelumnya. Fungsi lain
Po’o yaitu pemaknaan mendalam yang mempersatukan masyarakatnya dalam
suatu hubungan sosial, budaya dan religius. Kegiatan upacara adat ini
dilaksanakan setiap bulan Agustus dan Oktober. Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif kualitatif. Dari hasil wawancara dan analisis mengenai ritual
Po’o yang dilakukan oleh masyarakat Aebara, dapat disimpulkan bahwa ritual ini
memiliki makna mendalam sebagai ungkapan rasa syukur kepada leluhur dan
sebagai upacara pembukaan lahan baru, yang diawali dengan ritual Ru’e Sesa, di
mana Po’o menjadi simbol kesiapan dan wadah bagi masyarakat dalam
menyediakan makanan, serta melibatkan simbol-simbol lain seperti Po’o Bela
yang melambangkan persembahan dan kehormatan, Gega sebagai sumber energi, dedaunan wangi (fendo) yang mencerminkan kesegaran dan perlindungan
terhadap makanan, Hawa Tanah (belanga) yang menunjukkan kehangatan dan
kebersamaan, dan Po’o Lo’o yang menandakan keterikatan budaya, yang
kesemuanya berkontribusi pada keberhasilan ritual yang juga sangat bergantung
pada kerja sama dan koordinasi antar tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat yang
saling membantu dalam proses pelaksanaan ritual yang telah diwariskan secara
turun-temurun, antusiasme tinggi dari masyarakat adat meskipun ada sebagian
yang tidak dapat hadir, yang diimbangi dengan aturan-aturan yang diterapkan
dalam ritual tersebut untuk menciptakan kehidupan sosial yang teratur dan
bertanggung jawab. Ritual ini memperkuat nilai-nilai budaya, persatuan, gotong
royong, dan religiusitas masyarakat Aebara yang percaya akan pencipta dan
menghormati leluhur, yang terwujud dalam partisipasi dalam kegiatan komunitas
dan spiritual. Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan seperti perbedaan
pendapat dan latar belakang pendidikan di antara anggotanya. Ritual Po'o dalam
masyarakat Wonda berfungsi sebagai simbol persatuan dan penguatan ikatan
sosial melalui doa dan persembahan, mencerminkan rasa syukur serta
melestarikan nilai-nilai budaya, yang semuanya berkontribusi pada persekutuan
vi
yang dibangun oleh Gereja. Hal ini juga dapat dilihat sebagai penguat identitas
dan kehidupan sosial yang teratur serta bertanggung jawab dalam komunitas
paroki.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Persekutuan Umat, Ritual Po’o |
| Subjects: | L Education > Pendidikan Keagamaan Katolik |
| Depositing User: | Josias Gregorius Naro Reda |
| Date Deposited: | 22 Jun 2026 03:12 |
| Last Modified: | 22 Jun 2026 03:12 |
| URI: | http://repository.stipar-ende.ac.id/id/eprint/355 |

