Soro, MariaFatima (2023) PEMAHAMAN UMAT DI STASI ST. PETRUS PAROKI ST. MARIA IMMACULATA NDONA AKAN MAKNA SIMBOL “MENEBAH DADA” DALAM DOA “CONFITEOR” PADA RITUS TOBAT DALAM PERAYAAN EKARISTI. Diploma thesis, STIPAR ENDE.
Abstrak.pdf
Download (2MB)
Bab 1.pdf
Restricted to Registered users only
Download (2MB)
Bab II.pdf
Restricted to Registered users only
Download (3MB)
Bab III.pdf
Restricted to Registered users only
Download (1MB)
Bab IV.pdf
Restricted to Registered users only
Download (5MB)
Bab V.pdf
Restricted to Registered users only
Download (906kB)
Daftar Pustaka.pdf
Download (676kB)
Abstract
Soro, Maria Fatima. 2023. “Pemahaman Umat di Stasi St. Petrus Paroki St. Maria
Immaculata Ndona akan Makna Simbol Menebah Dada dalam Doa Confiteor
pada Ritus Tobat dalam Perayaan Ekaristi”. Skripsi. Program Studi Pendidikan
Keagamaan Katolik. Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende.
Pembimbing: Fransiskus Yance Sengga, S. Fil. Lic. Th.
Kata Kunci: Pemahaman umat, makna simbol menebah dada, doa Confiteor.
Dalam ritus tobat Tata Perayaan Ekaristi (TPE), ditemukan teks doa Confiteor.
Selain syair doa, dijumpai pula sikap liturgis yang harus dilakukan. Gestikulasi
liturgis yang dimaksud adalah “menebah dada”. Sikap ini dilakukan ketika imam
bersama umat mengucapkan “saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh
berdosa”. Pertanyaannya, “Mengapa harus di dada?” Karena dada adalah simbol
hati, akar dari segala yang membuat manusia berdosa (injil Mrk.7:21-23). Secara
simbolik, sikap ini mengungkapkan rasa sesal dan tobat. Apa yang diuraikan ini
sejatinya harus dipahami dan dihayati oleh umat Kristiani demikian pula umat
Stasi St. Petrus Ndona. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan fenomena
sebaliknya. Peneliti melihat, amat sering, umat tidak menebah dada. Ada yang
merasa biasa-biasa saja dan acuh tak acuh, ada pula yang hanya diam tanpa
mengucapkan doa Confiteor dan menebah dada. Karena itu muncul pertanyaan,
Apakah umat memahami makna menebah dada dalam doa Confiteor? Jadi,
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman umat akan makna
simbol menebah dada pada ritus tobat dalam perayaan Ekaristi. Peneliti
menggunakan jenis penelitian kualitatif. Untuk lebih mengetahui pemahaman
umat akan tema di atas, peneliti menggunakan 5 aspek dari 9 aspek yang ada
menurut teori Bloom, yakni: mengintepretasi, mencontohkan, membandingkan,
menjelaskan dan menyimpulkan. Hasil temuan lapangan mengungkapkan bahwa
tidak semua umat Stasi St. Petrus Ndona memahami dengan baik doa “saya
mengaku” dan makna simbol menebah dada. Hal ini ditunjukkan dengan
kenyataan bahwa tidak semua umat melakukan tindakan menebah dada dengan
benar. Ada yang merasa biasa-biasa saja, acuh-tak acuh, ada juga yang menebah
dada tanpa membungkuk, dan ada pula yang hanya dua kali menebah dada.
Selanjutnya dari kelima aspek pemahaman di atas, ditemukan bahwa dalam
aspek membandingkan, umat belum mampu memahami hubungan doa saya
mengaku dan makna simbol menebah dada. Pada aspek menjelaskan, umat
belum mampu menjelaskan kedudukan dan fungsi doa Confiteor. Aspek
mencontohkan, umat tidak menerapkan gestikulasi menebah dada dengan benar.
Karena itu, peneliti mengusulkan agar para seksi liturgi, atas sepengetahuan
Pastor Paroki Ndona, bekerja sama dengan Komisi Liturgi Keuskupan Agung
Ende untuk mengadakan sosialisasi secara terencana dan berkelanjutan kepada
umat mengenai bagian-bagian perayaan Ekaristi serta makna simbolik dari setiap
sikap liturgis yang terkandung di dalamnya. Dengan cara ini, umat diharapkan
dapat berpartisipasi secara aktif dan sadar terutama dalam konteks ini,
membawakan doa Confiteor dengan sikap menebah dada yang tepat dan benar.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | L Education > Pendidikan Keagamaan Katolik |
| Divisions: | Pendidikan Keagamaan Katolik |
| Depositing User: | Josias Gregorius Naro Reda |
| Date Deposited: | 13 Mar 2026 01:59 |
| Last Modified: | 13 Mar 2026 01:59 |
| URI: | http://repository.stipar-ende.ac.id/id/eprint/127 |

